Oleh: H. Widadi, SH
Seorang guru berdiri di depan anak-anak, menunjukkan uang kertas seratus ribu rupiah.
"Anak-anak, siapa yang mau uang ini?", semua anak menunjukkan jari, "Saya... saya!", kemudian sang guru meremas uang kertas itu hingga menjadi kusut. Bertanya lagi siapa yang mau, anak-anak semuanya menunjukkan jari.
Uang kemudian diinjak-injak dengan sepatunya, Ditunjukkan lagi kepada anak-anak, siapa yang mau. Anak-anak semuanya tetap menyatakan mau.
Uang itu berharga atau mempunyai nilai bukan karena tampilan fisiknya, tetapi karena diakui dan diterima. Ada nilai intrinsik yang menyebabkan uang berharga. Betapa banyaknya diantara kita, dalam kehidupan ini, memoles diri habis-habisan agar diterima dan diakui. Alih-alih membangun kekuatan dalam, inner beauty, inner power, atau karakter.
Banyak sekolah mengajarkan cara-cara memoles diri, cara duduk, cara berbicara, cara makan yang elegan. Meski kita sepakat tidak ada etiket terbaik yang bisa menggantikan harga diri atau karakter yang baik. Sayang, banyak orang tua lebih suka cara-cara instan memoles kepribadian anak agar (kelihatan) hebat. Kita lebih cenderung membanggakan reputasi daripada karakter.
Di rumah atau di sekolah, kita sering mendengar kalimat-kalimat ini, "Kalau kamu tidak juara kelas, hidup kamu akan susah", "Kalau kamu tidak jadi orang kaya, sudah cari jodoh", tubuh kamu gembrot, susah cari pacar", "Mbok kamu seperti kakamu itu, rajin, pintar,...".
Kalimat-kalimat di atas maksudnya baik, mendorong dan memotivasi. Tetapi harus diingat, di sisi lain akibatnya sulit ditebak. Bagi seseorang bisa memotivasi, tapi bagi orang lain bisa membuat frustasi. Kata pepatah "Matahari yang membuat melek burung hantu, bisa membuat buta burung hantu". Motivasi menggunakan kalimat bersyarat, atau dengan cara-cara membanding-bandingkan, dapat menjadi bumerang di kemudian hari.
Untuk berubah menjadi lebih baik dan sukses orang harus menerima diri apa adanya lebih dulu. Untuk menerima orang lain apa adanya, cintai diri lebih dulu. Kata Rasul SAW, salah satu ciri orang beriman adalah mencaintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Banyak orang menghabiskan waktu, uang dan tenaga untuk memoles dirinya, agar diterima dan disukai orang banyak, banyak orang-orang membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan --dengan uang yang tidak mereka miliki-- untuk menyenangkan orang yang tidak mereka sukai. Ironis!
Bersambung.
H. Widadi, SH, Plt Ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah, seperti dimuat dalam majalah Derap Guru No 175 Th. XIV - Agustus 2014 hal. 12.

Posting Komentar
Jangan lupa komentarnya :)