Bagian 2: Penerimaan Orang Lain Bersyarat
Oleh: H. Widadi, SH
Ada seorang serdadu yang baru saja tiba dari perang Vietnam. Hari itu ia menelepon orang tuanya di San Fransisco.
"Ayah dan ibu, sebentar lagi nanda akan pulang, tapi nanda punya satu permintaan. Nanda mempunyai seorang teman yang nanda bawa turut bersama".
"Tentu boleh, Nak. Kami akan senang hati bertemu dengannya".
"Tapi ada hal penting yang nanda sampaikan, dia mengalami luka parah saat berperang. Tanpa sengaja dia menginjak ranjau yang menyebabkan satu tangan dan satu kakinya hilang. Sekarang ia tidak tahu harus pergi kemana. Nanda ingin dia bersama kita".
"Kami turut prihatin dengan teman itu, mungkin kita bisa carikan tempat lain dimana dia bisa tinggal".
"Tidak ayah, bunda. Nanda ingin dia bersama kita".
"Nak, kamu tidak tahu apa yang kami minta, kita mempunyai kehidupan sendiri dan kita tidak mungkin membiarkan orang seperti itu mengganggu kehidupan kita. Kami pikir lebih baik kamu pulang dan lupakanlah orang itu. Dia pasti akan menemukan jalan hidupnya sendiri".
Setelah mendengar jawaban ini telepon ditutup oleh anaknya. Hingga beberapa hari lamanya kedua orang tua itu tidak mendengar kabar lagi dari anaknya. Namun suatu hari mereka justru menerima telepon dari kepolisian San Fransisco. Anak mereka ditemukan tewas setelah jatuh dari gedung, diperkirakan anaknya bunuh diri.
Dengan penuh perasaan sedih mereka bergegas menuju rumah sakit yang ditunjukkan polisi. Mereka diminta untuk mengenali jenazah anaknya dan mereka mengenalinya. Yang membuat mereka terpukul, ternyata anaknya tersebut hanya mempunyai satu tangan dan satu kaki.
Betapa sikap orang tua di atas seperti sering mencerminkan perilaku kebanyakan dari kita. Tanpa sadar kita mau menerima orang lain yang sesuai dengan harapan kita. Keinginan tersebut sering bukan hanya harapan, tetapi juga tuntutan.
"Anak saya harus pandai matematika!". Ketika nilai matematika anaknya jelek, muncul ketidakpuasan kepada anaknya. Dan selanjutnya bisa dibayangkan, akan mengganggu hubunga kasih sayang orang tua-anak.
Membuat orang lain merasa diterima sepenuhnya adalah pekerjaan yang sulit bagi manusia masa kini. Kebanyakan kita terbiasa dididik penerimaan secara bersyarat, maka kitapun lantas terbiasa menerapkan syarat-syarat itu kepada orang lain. Sulit bagi kita mencintai tanpa syarat. Kita memberi cinta, tetapi ada "harga" tertentu yang harus dibayar, yaitu mengikuti keinginan dan kehendak kita. Maka terjadi, suami mencerai istrinya gara-gara istri tidak melahirkan anak. Begitu sulitkan mencintai apa adanya? Kita mencintai dengan tulus, bukan berarti kita hanya menerima hal-hal yang menarik, tetapi juga menerima yang kadang merupakan keunikannya, hal yang tidak kita sukai.
H. Widadi, SH, Plt Ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah, seperti dimuat dalam majalah Derap Guru No 175 Th. XIV - Agustus 2014 hal. 12.

Posting Komentar
Jangan lupa komentarnya :)