Kehidupan yang sementara ini, seandainya kelalaian yang menjadi pilihan, niscaya setelah ia berlalu pergi, yang tinggal hanyalah penyesalan.
                Melihat kedalam diri, dari mana asal usul diri ini sebenarnya. Siapa yang kenal hakikat diri yang diciptakan, pasti merasai kehadiran Dia yang menciptakan.
                Namun, yang lalai terus lalai, karena tidak mau memilih untuk sadar dari kelalaian. Mengambil waktu sesaat, merenungi hakikat diri yang berasal dari “tiada”, lalu diadakan oleh kasih sayangNya, namun dengan kasih sayang itu juga akhirnya melupakanNya.
                Tak sedikit yang lalai, bila ditanyakan adakah mereka tahu kehidupan dunia hanya untuk sementara. Jawabannya : “Ya, kami tahu dunia ini sementara”. Namun bagaimana secara realitasnya, memberi jawaban yang berbeda.
                Orang yang tahu bahwa dia hanya singgah disuatu tempat, akan bersiap untuk berangkat, dan tidak lalai dipersinggahan yang waktunya singkat.
                Bila semakin hari mengumpul dosa yang menggunung, bagaimana layak untuk pulang kehadirat Allah yang Maha Agung.
                Bila amalan yang dilakukan masih banyak yang perlu ditampung, sedangkan usia semakin menuju angka “kosong”...penghujung akhir...dan kesudahan. Bagaimana tiap hari terus sombong dengan hakikat bahwa didunia ini sekedar menumpang.
                 Hakikat hidup ini tempat menunaikan kehambaan kepada Allah SWT. Kematian bukanlah suatu fantasi atau hanya cerita dongengan. Terbukti tiap hari melihat jenazah dikebumikan. Mau lari kemana diri yang penuh kehinaan. Tidak pernah bosan dengan kelalaian demi kelalaian.
                Allah SWT senantiasa memberi para hambaNya akan peluang untuk kembali kepadaNya. Allah SWT sering menyampaikan pesan dan mengetuk pintu hati manusia yang terlena agar kembali mengingatNya.
                Allah SWT senantiasa menjanjikan ampunan kepada siapa saja yang ingin bertaubat kepadaNya walaupun membawa segunung dosa. Terpulang atau terus lalai, atau mulai melangkah menujuNya.
                Hidup ini, impian yang pasti adalah kembali kepada Tuhan semesta alam ini. Tugas yang hakiki adalah merealisasikan makna kehambaan dalam diri. Melangkah kaki dengan langkah yang murni. Menumpukan sepenuh hati hanya kepada Ilahi. Semoga dirahmati Ar-Rahman Al-Qawiy.

Posting Komentar

Jangan lupa komentarnya :)

 
Top